Jejak Ya’juj dan Ma’juj di Eropa?

Oleh: Harun Husein

patung-gog-and-magog-di-guildhall-_140819231727-496
“Saya lebih baik menusukkan pedang ke tubuh saya daripada menyaksikan Palestina dicabut dari Daulah Islamiyah.”

Ya’juj dan Ma’juj atau Gog dan Magog, bukanlah aktor yang populer. Kitab suci berbagai agama, baik Islam, Kristen, maupun Yahudi, menggambarkan Ya’juj dan Ma’juj secara buruk. Tapi, bukan berarti tak ada tempat yang nyaman buat Ya’juj dan Ma’juj.

Kota London adalah tempat dimana Ya’juj dan Ma’juj mendapat perlakuan yang lebih baik. Di jantung Inggris Raya, itu, Ya’juj dan Ma’juj ditempatkan di gedung Guildhall. Sebuah bangunan bersejarah yang pernah menjadi balai kota London selama beratus tahun.

Tapi, kisah Ya’juj dan Ma’juj di gedung tersebut, juga berbeda versi dengan kitab suci, baik Alquran, Injil, maupun Taurat. Ya’juj dan Ma’juj di sana dikaitkan dengan sebuah legenda.

Konon, Brutus, raja Inggris Raya yang merupakan keturunan pahlawan Troy, Aenes, berhasil mengalahkan Ya’juj dan Ma’juj. Kemudian, merantai kedua raksasa setinggi tujuh kaki itu di istananya, yang kini menjadi situs Guildhall.

Alhasil, kendati gambaran Alkitab tentang Ya’juj dan Ma’juj adalah negatif, wali kota London tetap membawa patung Ya’juj dan Ma’juj untuk diarak di acara Lord Mayor Show, sebuah seremoni tahunan yang digelar sejak abad ke-16.

Patung Ya’juj dan Ma’juj tersebut mulai dilibatkan dalam proses yang digelar pada Sabtu kedua setiap November, itu, sejak era Raja Henry V. Bahkan, Ya’juj dan Ma’juj diagungkan sebagai pelindung Kota London. Entah bagaimana sebenarnya Ya’juj dan Ma’juj ini dalam masyarakat Inggris. Karena, semuanya serba kontradiktif.

Masyarakatnya membaca Bibel yang menggambarkan Ya’juj dan Ma’juj secara negatif, tapi legendanya menyebut Ya’juj dan Ma’juj sebagai figur yang dikalahkan dan dirantai oleh Raja Inggris, dan pada saat bersamaan dipuja sebagai pelindung Kota London tak ubahnya figur santa.

Fakta tentang Ya’juj dan Ma’juj yang diarak dalam parade tahunan di Kota London, tentu saja akan memancing reaksi. Salah satunya nongol di Yahoo Answer. “Siapa Ya’juj dan Ma’juj dan bagaimana mereka mempunyai hubungan dengan Inggris?” demikian salah satu pertanyaan yang diajukan.

Karena pertanyaan itu bak dilemparkan ke forum bebas, umumnya para penjawab justru mengutip Alquran, Injil, dan Taurat. Maka, dimaki-makilah Ya’juj dan Ma’juj sebagai setan, dan lain sebagainya. Tak ada jawaban pasti mengapa Ya’juj dan Ma’juj berkaitan dengan Inggris, kecuali nukilan cerita-cerita dan legenda, yang tentu saja sulit diverifikasi kesahihannya.

Tapi, apakah mungkin Ya’juj dan Ma’juj yang diarak keliling London selama berbilang abad, ditempatkan di situs penting dan bersejarah, diklaim sebagai pelindung Kota London, juga dipuja sebagai Champion of London, hanya sebuah seremoni yang berdasarkan mitos dan legenda? Bagaimana bila ternyata, simbol-simbol itu juga berkaitan dengan realitas?

Ahli eskatologi Islam, Imran Hosein, setelah mengkaji surah al-Anbiya ayat 95-96, sampai pada kesimpulan bahwa Ya’juj dan Ma’juj-lah yang telah membawa orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem, setelah Bani Israil terusir dari Tanah Suci selama dua millennium. Dan, negara yang paling banyak berperan dalam hal ini, tidak lain dan tidak bukan adalah Inggris.

Gerakan kembali ke Tanah Suci untuk mendirikan Negara Yahudi, mulai bergema pada 1800-an, menjelang keruntuhan Khilafah Turki Usmani. Gerakan itu bernama Zionisme. Melihat kondisi ekonomi Khilafah Usmani sedang goyah, pada 1901, salah satu pendiri Zionisme, Theodor Herlz, mendatangi Istanbul, dengan niat menemui Sultan Abdul Hamid II. Dia menawarkan membeli Palestina dengan harga 150 juta pound emas, sehingga Usmani bisa membayar utang-utangnya.

Abdul Hamid II, sultan terakhir Usmani, menolak menemui Herlz. Lewat salah seorang menterinya, dia mengirim pesan yang berbunyi: “Katakan kepada Tuan Herlz untuk tidak mengambil langkah lebih lanjut. Saya tidak bisa memberikan sejengkal pun tanah yang bukan milik saya sendiri, tapi milik umat Islam.”

“Untuk mendapatkan tanah itu, umat Islam berjuang mengorbankan jiwa. Darah mereka tertumpah di atas tanah itu. Orang-orang Yahudi silakan menyimpan uangnya. Jika suatu hari Khilafah Islamiyah ini dihancurkan, maka mereka bisa mengambil Palestina tanpa perlu membayar.”

“Tapi, selama saya masih hidup, saya lebih baik menusukkan pedang ke tubuh saya daripada menyaksikan Tanah Palestina dicabut dari Daulah Islamiyah. Ini tidak akan terjadi. Saya tidak akan memulai memotongi tubuh kami, selama kami masih hidup.”

Riwayat lain menyebutkan bahwa Sultan Abdul Hamid II juga berkata, “Meskipun Anda memberikan emas sepenuh bumi, saya tidak akan menerimanya. Saya telah melayani Millat Islamiyah dan ummat Muhammad lebih dari 30 tahun, dan tidak akan membuat lembaran hitam untuk umat Islam, ayah saya, nenek moyang saya, dan para sultan dan khalifah Usmani.”

Pada 1909, Sultan Abdul Hamid II dilengserkan oleh Turki Muda yang dipimpin Kemal Ataturk. Turki Muda kemudian menunjuk Mahmud Rasyid – saudara Abdul Hamid II— sebagai sultan, namun dia hanyalah simbol yang relatif tak memiliki kekuasaan.

Akhir 1914, Inggris mengumandangkan perang melawan Khilafah Usmani. Dua bulan setelahnya, Herbert Louis Samuel, politisi liberal Inggris—yang belakangan menjadi orang Yahudi pertama yang memimpin partai besar di Inggris—mengajukan memorandum bertajuk “Masa Depan Palestina”, kepada Kabinet Inggris. Dia meminta perlindungan Inggris untuk mendukung imigrasi Yahudi ke Palestina. Dia tak bertepuk sebelah tangan.

Pada 2 November 1917, pemerintah Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour. Deklarasi ini adalah sebuah surat dari Menteri Luar Negeri Inggris, James Balfour, kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Baron Rothschild. Isinya, pemerintah Inggris mendukung pendirian Tanah Air untuk orang Yahudi di Palestina, dan akan melakukan usaha terbaik agar tujuan itu tercapai.

Hanya sebulan kemudian, pasukan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Allenby, telah memasuki Yerusalem. Inggris mengambil alih kontrol atas Palestina, setelah mengalahkan tentara Usmani pada Perang Yerusalem.

Usmani saat itu memang sudah sangat lemah. Setelah kalah pada Perang Dunia I, pada tahun 1924, Khilafah Usmani pun bubar. Jenderal Allenby memasuki Yerusalem dengan berjalan kaki, dari arah yang dulu digunakan Khalifah Umar saat memasuki Yerusalem. Salah satu pernyataan Allenby yang terkenal adalah: “Baru sekaranglah Perang Salib berakhir.”

Dan, cerita pun berlanjut. Pada 14 Mei 1948, Negara Israel dideklarasikan oleh David Ben-Gurion, Ketua Organisasi Yahudi Internasional. Sejak saat itu, Timur Tengah tak pernah berhenti bergolak. Lantas, apakah hanya yang membawa orang-orang Yahudi ke Tanah Suci, yang menjadi kandidat Ya’juj dan Ma’juj?

Bagaimana dengan orang-orang Yahudi sendiri? Soal ini pun menarik untuk ditelusuri. Betapa tidak, lebih dari 90 persen Yahudi di muka bumi, dan sebagian besar yang mendirikan Negara Israel dan mendiaminya, adalah Yahudi Ashkenazi. Banyak tokoh yang menuding Yahudi Ashkenazi bukan keturunan Ibrahim, Ya’qub, dan Ishak. Antara lain Ernest Renan dan Arthur Koestler.

Arthur Koestler dalam bukunya, The Thirteenth Tribe mengemukakan teori bahwa Yahudi Ashkenazi bukanlah keturunan Semit, tapi keturunan Khazaria.

“Orang-orang yang nenek moyangnya bukan dari Yordania, tapi dari Volga. Bukan dari Kanaan, tapi dari Kaukasus. Orang-orang yang secara genetik lebih dekat kepada bangsa Hun, Uighur, dan Magyar, ketimbang benih dari Ibrahim, Ishak, dan Ya’qub.”

Imperium Khazaria pernah menguasai Asia Tengah. Pada abad ke-8, penguasanya tiba-tiba memeluk agama Yahudi. Di masa jayanya, dari barat ke timur, imperium Khazar membentang dari Eropa Timur hingga Asia Tengah. Sedangkan dari utara ke selatan, membentang dari Volga hingga Kaukasus.

Mengutip sumber-sumber Arab abad ke-10, Arthur Koestler menggambarkan orang Khazar bertubuh besar, berkulit putih, bermata biru, dan rambut panjang kemerahan, dan sikapnya dingin. Namun, secara umum, tabiatnya liar. Mereka tinggal di kawasan yang dingin dan basah, bersuhu hingga 7 derajat Celsius.

Para sejarawan dan ahli geografi Muslim abad ke-10, mencatat bahwa orang Khazarialah yang saat itu dicurigai sebagai Ya’juj dan Ma’juj. Merekalah yang diduga dikurung di Ngarai Daryal, pegunungan Kaukasus.

Dan, setelah Kerajaan Khazaria diterjang gelombang pasukan Mongol pimpinan Jengis Khan, yang diikuti serangan orang-orang Rus, Imperium Khazaria di kawasan Eurasia pun bubar. Mereka kemudian berpencar ke Eropa Timur seperti Krimea, Polandia, Hungaria, dan Rusia.

Dan, kendati imperium Khazaria pernah berdiri megah selama berbilang abad, aneh bin ajaib karena tak ada lagi saat ini di muka bumi orang yang mengaku suku atau bangsa Khazaria. Ternyata, mereka telah bermetamorfosa menjadi Yahudi Ashkenazi.

Teori ketidakaslian Yahudi Ashkenazi itu belakangan dibenarkan oleh penelitian DNA yang antara lain dilakukan oleh Eran Elhaik dari Universitas John Hopkins, AS. Dia mendapati komponen Kaukasia pada orang Yahudi Ashkenazi sangat besar. Mereka lebih identik dengan orang Eropa ketimbang Timur Tengah.

Bahkan, dari sisi DNA, orang Arab Palestina saat ini lebih dekat dengan Yahudi semit ketimbang Yahudi Ashkenazi. “Ya’juj adalah aliansi Anglo-Amerika-Israel, sedangkan Ma’juj adalah Rusia,” simpul Imran Hosein. Wallahu a’lam.

 

Kutipan dari Republika.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar

Pesan Rahasia Muadz bin Jabal

Oleh: Ina Salma Febriany

 

Suatu hari, Muadz bin Jabal diboncengi keledai yang dikendarai Rasulullah SAW. Di atas keledai, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Muadz, tahukah engkau hal apa yang patut engkau penuhi terhadap Allah dan satu hal lain yang pasti akan Allah penuhi terhadapmu?”

Muadz terdiam lalu menjawab, “Allah SWT dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, Ya Rasul.”

Kemudian Rasulullah menjawab, “Bahwasannya satu hal yang patut engkau penuhi terhadap Allah ialah bahwa engkau berjanji sepenuh hati bahwa engkau tidak akan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun (syirik). Dan satu hal yang pasti Allah tunaikan hak-Nya untukmu ialah bahwa Dia takkan pernah menyiksa para hamba-Nya yang tidak pernah melakukan syirik.”

Muadz tercengang. Dengan penuh semangat ia menjawab, “Ya Rasul, dapatkah saya sampaikan ini kepada orang-orang?”

Rasulullah SAW pun menjawab, “Tahanlah. Aku khawatir orang-orang akan lengah sehingga mereka terlalu berharap keluasan rahmat Allah, kemudian malas beribadah.” (HR Bukhari)

Sabda Nabi SAW mengingatkan kita kembali perihal hak dan kewajiban yang semestinya kita penuhi baik sebagai makhluk sekaligus hamba Allah SWT. Karena status kita sebagai hamba, maka sedari proses penciptaannya pun Allah telah berikrar, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah padaku.“ (QS adz-Dzariyat: 56)

Begitu tinggi esensi peribadatan kepada Allah selaku Khalik dan kita yang hanya sebagai makhluk. Tentiu saja beribadah kepada-Nya harus dilandasi dengan ilmu dan tauhid (pengesaan Allah).

Dalam surah lain, menjadi jelas bahwa Allah juga ‘menegur’ kita untuk tidak masuk ke dalam jurang syirik. “Dan janganlah kamu menjadikan sesembahan (tuhan) yang lain selain Allah maka kamu akan dicela dan terhina.” (QS al-Isra: 22)

Pesan ini bergandengan dengan perintah untuk taat pada orangtua, anjuran bersedekah, tidak mubazir, tidak terlalu pelit dan berlebihan, larangan membunuh anak karena takut miskin, larangan zina, larangan membunuh sesama, larangan memakan harta anak yatim dengan jalan yang batil, memenuhi takaran (timbangan) dengan adil, dan ditutup dengan larangan untuk tidak mengikuti apa-apa yang tidak kita ketahui (taklid buta).

Syirik dan taklid buta menjadi sejajar manakala syirik dilakukan karena manusia mengikuti tanpa ilmu dan tanpa dalil terhadap sesuatu yang dilakukan oleh orang lain.

Sabda Rasulullah SAW di atas ditutup dengan anjuran kepada Muadz untuk tidak langsung menyampaikan sabda itu kepada khalayak karena khawatir orang-orang terlalu bergantung pada keluasan rahmat Allah. Sehingga mereka malas berusaha karena tahu bahwa Allah akan mengganjar mereka dengan ‘bebas siksa’ ketika mereka cukup dengan ‘tidak syirik’. Ini akan membuka peluang kemalasan dalam meningkatkan kualitas ibadah.

Oleh karenanya, Muadz baru menyampaikan sabda berharga ini di detik-detik kewafatannya. Sehingga orang-orang sezamannya tidak ada yang tahu. Sebuah pesan rahasia, penyelamat dari segala siksa untuk semua manusia. Wallahu a’lam.

 

Sumber : http://www.republika.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar

Syiar Islam sejati lewat perilaku, bukan suara keras

MERDEKA.COM. Wakil Ketua Harian Dewan Masjid Indonesia Kiai Masdar Farid Masudi berharap pengeras suara luar masjid hanya digunakan saat azan. Tidak perlu dipakai untuk ceramah apalagi berisi sindiran dan menyulut kemarahan.

Menurut Masdar, pemakaian pengeras suara masjid juga mencerminkan sikap dan perilaku umat Islam. “Orang akan melihat orang Islam dari perilaku dimunculkan, mulia akhlaknya, memahami orang lain, santun,” katanya. “Justru itulah syiar sejati. Intinya akhlak, bukan suara keras dan menggertak.”

Berikut penjelasan Masdar saat dihubungi Islahuddin dari merdeka.com melalui telepon selulernya Rabu lalu.

Bagaimana kalau pengaturan pengeras suara masjid itu dianggap menghalangi syiar Islam?

Ini bukan masalah syiar. Ini masalah mengganggu orang di sekitar masjid. Kita juga harus menghormati tetangga. Itu ditekankan oleh nabi. Tetangga itu bisa orang yang tidak bisa ke masjid. Tidak bisa ke masjid karena memang ada halangan atau bukan Islam.

Itu harus tetap dihormati, tidak boleh diganggu, apalagi dengan suara-suara bernada sindiran dan kecaman kepada orang tidak sepaham. Itu tidak bagus. Tidak ada agama lain menggunakan pengeras suara luar dalam menyampaikan ceramah tentang agamanya.

Bukankah konteks pengaturan volume suara pengajian dalam masjid ini untuk wilayah heterogen penduduknya?

Iya, di kampung jarang menggunakan pengeras suara luar apalagi dengan ceramah berapi-api. Orangnya juga homogen. Kadang walau homogen, di sekitar masjid ada yang lagi sakit dan tidak bisa diganggu. Kita orang Islam harus lebih tahu akan hak tetangga.

Apakah aturan ini akan berbentuk fatwa atau anjuran saja?

Tidak perlu pakai fatwa, pakai akal sehat saja sudah selesai. Cukup gunakan saja ayat, hendaklah kamu berpikir. Berpikir sederhana dengan ayat itu sudah kesampaian maksudnya. Kalau sulit dalam pelaksanaannya, pesan ini harus tetap disampaikan.

Apakah Anda pernah mendengar suara pengajian membuat Anda begitu terganggu?

Tidak hanya saya. Sekarang ceramah menyindir kanan kiri dengan orang tidak sepaham dengan dirinya sudah sering dan banyak terdengar sekarang.

Kalau masalah isi ceramah mengecam dan menyulut kebencian, kenapa tidak ditekankan pada isi ceramah, tapi malah pada penggunaan pengeras suaranya?

Memang suara itu sendiri masalah juga. Tidak semua orang mendengar ceramah dari masjid itu siap menggunakan telinganya untuk mendengarkan. Memang tidak dipaksa, tapi mereka tetap mendengar kan? Itu memperkosa telinga orang.

Berarti nanti ada aturan detail akan hal itu?

Sederhana saja, tidak usah ribet gitu. Pengeras itu bisa dipakai untuk orang ada di dalam masjid. Untuk membantu orang di dalam masjid berkepentingan mendengar agar lebih jelas. Kalau tanpa pengeras suara dan sudah terdengar oleh jamaah, kenapa harus pakai. Itu alat bantu untuk mendengar dan ingin mendengar jangan terus mengagresi telinga orang tidak mau mendengarkan itu.

Berati jangan sampai niat dan usulan ini dianggap sebagai bentuk meminimalisir ruang syiar Islam?

Syiar Islam paling baik itu adalah perilaku. Perilaku lebih substantif sebagai syiar Islam, bukan suara keras. Perilaku saleh, menghormati sesama. Orang akan melihat orang Islam dari perilaku, mulia akhlaknya, memahami orang lain, santun. Itu menarik sekali, justru itulah syiar sejati. Intinya akhlak, bukan suara keras dan menggertak.

Sumber: Merdeka.com, yahoo.com

Satuju aneeeeee !!!!! nendang banget nih rencana.

Soalnya di masjid deket rumah ane seringkali dipakai untuk nyetel kaset lagu marawis (masjid koq dipake nyanyi), nyetel kaset ceramah (padahal dirumah ane juga tiap waktu nyetel ceramah dan tentu saja gak memperkosa kuping orang)  sama ngaji “ngabuluyur” (apaan tuh “ngabuluyur” ?) yang volumenya bikin kuping budeg di waktu-waktu yang nyeleneh. Kadang suka malu sama penganut lain, bangsa seiman ane koq ngeganggu.

Eh tapi yg rajin ke mesjid itu kalo lwt depan ane gak  pernah permisi apalagi ucapin salam, malahan dulu-dulunya malah ada yang akrab sama ane. secara hukum adat budaya saja  yg lwt kan biasanya yg logis salam duluan, tapi ini malah nunggu di tegor. Jadi mana syiarnya ? maka nya nih rencana ane bilang nendang kali sama kondisi di lingkungan ane.

Tinggalkan sebuah Komentar

Allah Tak Menyapa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus-Shalihin (hal. 616). menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra., bahwa Nabi saw  berpesan kepada para sahabatnya: “Tsalaatsatun laa yukallimuhumullahu yaumal qiyamah wa laa yuzakkihim wa laa yandzuru ilaihim wa lahum ‘azabun aliim”. (Ada tiga golongan manusia pada Hari Kiamat tidak disapa, tidak disucikan, tidak ditatap dan akan ditimpakan azam pedih). (HR. Muslim).

Pertama ; Syaikhun zaanin (orang tua yang berzina). Allah benci kepada siapa pun yang berzina, tapi lebih benci kepada orang tua bangka yang berzina.

Kenapa? Karena seorang yang sudah lanjut usia mestinya menjadi sumber kearifan, melindungi dan panutan masyarakatnya. Menjaga keharmonisan sosial dan keluarga serta semakin taqarrub ilallah.

Sama halnya dengan seorang tua yang menikah (poligami) lebih dari empat wanita atau menikahi dua orang bersaudara dalam waktu bersamaan. Allah melarang mendekati atau memfasilitasi perzinahan apalagi melakukannya, baik tersembunyi maupun terang-terangan. (QS. 17:32, 24:2).

Kedua ; Malikun kadzdzaabun (penguasa yang berdusta). Allah SWT beci kepada siapa pun yang berdusta (baik kata maupun laku), tapi  lebih benci lagi kepada penguasa pendusta. Kenapa? Karena ia akan merugikan orang banyak (rakyat).

Ia mengambil hak mereka (zhalim) dan membuat kebijakan yang merugikan, khianat dalam kepemimpinannya. Ia memperkaya diri dan keluarganya, sementara rakyat mengalami kelaparan dan kebodohan.

Kalau orang biasa yang dusta, dampaknya hanya untuk diri dan keluarganya. Allah tidak suka kepada dusta (kemunafikan). (QS. 39:32,29:3,16:116).

Ketiga ; ‘Aailun mustakbirun (orang miskin yang sombong). Allah benci kepada orang kaya yang sombong, tapi lebih benci lagi kepada orang miskin yang sombong. Kenapa? Karena tidak ada yang patut disombongkan.

Jika orang kaya sombong, masih bisa dimengerti. Meskipun, hakekatnya ia juga miskin, karena yang didapatkan bukan miliknya, tapi milik Allah.

Orang yang miskin harta, ilmu, kontribusi, ibadah dan lain-lain, namun sombong, itu namanya terlalu. Hanya Allah yang patut sombong (al-mutakabbir) dan Ia tidak suka kepada orang sombong lagi bangga diri. (QS. 4:36,31:18, 57:23, 29:39,17:37).

Nabi saw pernah berkisah, kelak di Hari Pembalasan akan datang orang yang mengalami kebangkrutan pahala (muflis),  karena seluruh pahala ritualnya  terkuras untuk membayar dosa sosialnya.

Bahkan, jika pahala  ritualnya habis, sementara dosa sosialnya masih ada, maka dosa-dosa dari orang yang diperlakukannya buruk, akan ditimpakan kepadanya hingga ia masuk ke dalam neraka. (HR. Muslim).

Islam menekankan ibadah dalam dimensi sosial jauh lebih besar daripada dimensi ritual dengan tiga alasan: Pertama, ciri-ciri orang beriman atau bertakwa lebih banyak ibadah sosialnya. (QS. 23:1-11).

Kedua, jika ibadah ritual bersamaan dengan ibadah sosial, maka didorong untuk mendahulukan yang sosial. Misalnya, Nabi saw pernah melarang seorang imam membaca surat panjang dalam shalat berjamaah (HR. an-Nasa’i).

Nabi saw juga pernah memperpanjang sujudnya karena cucunya bermain dipundaknya. (HR. Jamaah). Ketiga, kalau ibadah ritual cacat,  dianjurkan untuk berbuat sesuatu yang bersifat sosial.

Misalnya melanggar larangan puasa harus ditebus dengan memberi makan fakir miskin.  Sebaliknya, jika ibadah sosial yang rusak, tidak bisa diganti dengan ibadah ritual.

Misalnya, durhaka kepada orang tua dan dzalim kepada tetangga tidak bisa diganti dengan puasa, zikir atau membaca al-Qur’an.

Ketiga golongan manusia yang tidak disapa Allah SWT tersebut di atas, adalah orang-orang yang melakukan dosa sosial, bukan dosa individual.

Perbuatan buruk mereka telah merugikan dan menghinakan orang lain, baik secara moril, material maupun masa depan.

Jika dosa individual, ampunannya hanya berkaitan dengan Sang Khalik. Tapi, dosa sosial tidak terampuni jika orang-orang yang telah dianiaya (al-madzlum) belum memaafkan.

Oleh karena itu, patutlah jika Allah tak berkenan menegur sapa, menyucikan, menatap bahkan mengazab di Hari Pembalasan. Naudzubillahi mindzalik.   Allahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan sebuah Komentar

Kisah Ulama yang Berpura-pura Jadi Pengemis

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Pakaiannya compang-camping, lusuh, kusam. Ia berjalan dengan bantuan tongkat dan berpura-pura pincang. Rambut dan jenggotnya dibuat semrawut. Dengan tampang meyakinkan, tak akan ada seorang pun yang tahu bahwa ia adalah pengemis palsu. Benar, tak ada satu pun warga yang menguak identitas aslinya. Ia merupakan seorang ulama dari Andalusia (saat ini Spanyol dan negara sekitar), Imam Baqi bin Mikhlad.

Saat itu ia ingin sekali belajar pada salah satu imam empat, Imam Ahmad. Ia pun berangkat dari Eropa, menyeberangi Laut Tengah menuju Afrika, kemudian melanjutkan perjalanan panjang ke Baghdad, Irak, tempat tinggal Imam Ahmad. Tanpa kendaraan, Baqi yang saat itu masih berstatus penuntut ilmu menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Hanya satu tujuannya, berguru pada sang imam.

Namun, Baqi mendengar kabar mengejutkan begitu tiba di Baghdad. Khalifah yang berkuasa saat itu jauh dari jalan Islam yang hanif. Imam Ahmad yang vokal pada kebenaran pun bereaksi menasihati khalifah. Namun, sang imam yang sangat mengagungkan Alquran dan sunah justru difitnah hingga dikucilkan. Ia juga dilarang mengajar ataupun mengumpulkan para penuntut ilmu. Imam Ahmad dianggap menentang paham yang dianut kekhalifahan. Sedihlah hati Baqi mendengar kondisi Imam Ahmad, guru yang diharapkannya memberikan ilmu barang satu ayat.

****

Kendati demikian, Baqi tetap mencari rumah Imam Ahmad. Tekadnya untuk berguru telah bulat. Ia pun melangkahkan kaki ke rumah sang imam. Saat mengetuk pintu, ternyata Imam Ahmadlah yang membukakannya. “Wahai Abu Abdullah, saya seorang yang datang dari jauh, pencari hadis dan penulis sunah. Saya datang ke sini pun untuk melakukan itu,” ujar Baqi antusias.

“Anda dari mana?” tanya Imam Ahmad.
“Dari Maghrib al-Aqsa,” jawab Baaqi.
Imam Ahmad pun menebak, “Dari Afrika?”

“Lebih jauh dari Afrika. Untuk menuju Afrika saya melewati laut dari negeri saya,” jawab Baqi.

Imam pun kaget mendengarnya, “Negeri asalmu begitu jauh. Aku sangat senang jika dapat memenuhi keinginanmu dan mengajar apa yang kamu inginkan. Akan tetapi, saat ini saya tengah difitnah dan dilarang mengajar,” jawab Imam Ahmad.

****

Tak putus asa mendengarnya, Keinginan Baqi untuk berguru pada Imam Ahmad tak mampu dibendung. Ia pun menawarkan berpura-pura menjadi pengemis. “Saya tahu Anda tengah difitnah dan dilarang mengajar wahai Abu Abdillah, akan tetapi tak ada yang mengenal saya di sini, saya sangat asing di tempat ini. Jika Anda mengizinkan, saya akan mendatangi rumah Anda setiap hari dengan mengenakan pekaian pengemis. Saya akan berpura-pura meminta sedekah dan bantuan Anda setiap hari. Maka wahai Abu Abdillah, masukkanlah saya ke rumah dan berilah saya pengajaran meski hanya satu hadis,” pinta Baqi berbinar.

Melihat tekadnya yang begitu bulat dan amat giat menuntut ilmu, Imam Ahmad pun menyanggupi. Namun, ia meminta syarat agar Baqi tak mendatangi tempat kajian hadis ulama selain Imam Ahmad. Hal tersebut dimaksudkan agar Baqi tak dikenal sebagai penuntut ilmu. Statusnya sebagai penuntut ilmu sementara dirahasiakan.

Mendengar kesanggupan sang Imam, Baqi pun begitu bahagia. Ia segera menyanggupi persyaratan itu. Hati Baqi saat itu benar-benar dipenuhi bunga-bunga mekar nan indah. Keesokan hari, Baqi pun mulai ‘beraksi’. Ia mengambil sebuah tongkat, membalut kepala dengan kain, dan pernak-pernik pengemis lain. Sementara itu, sebuah buku dan alat tulis berada di balik baju samarannya itu.

Ketika berada di depan pintu Imam Ahmad, Baqi dengan nada melas akan berkata, “Bersedekahlah kepada orang miskin agar mendapat balasan pahala dari Allah,” ujarnya. Jika mendengarnya, Imam Ahmad segera membukakan pintu dan memasukkan Baqi ke dalam rumahnya. Di dalam rumah, dimulailah proses pengajaran ilmu yang amat diberkahi Allah itu. Demikian aktivitas itu dilakukan setiap hari oleh Baqi dan sang guru. Dari proses belajar diam-diam itu, Baqi mampu mengumpulkan 300 hadis dari Imam Ahmad.

****

Hingga kemudian jabatan kekhalifahan berganti. Seorang Suni yang fakih beragama, al-Mutawakkil, naik menjabat sebagai khalifah. Sejak itu, sunah pun dibumikan kembali, bid’ah peninggalan khalifah sebelumnya segera dihapuskan. Imam Ahmad pun kembali menjadi ulama Muslimin. Kajiannya dibuka, para penuntut ilmu berbondong-bondong datang.

Sejak itu, kedudukan Imam Ahmad makin tinggi dan terkenal. Jumlah muridnya sangat banyak. Jika ia membuka majelis kemudian melihat Baqi, maka Imam Ahmad segera memanggil Baqi dengan gembira. Imam Ahmad akan meminta Baqi untuk duduk di samping beliau. “Inilah orang yang benar-benar menyandang gelar penuntut ilmu,” ujar Imam Ahmad kepada para muridnya. Sang Imam pun mengisahkan pengalaman Baqi yang menyamar menjadi pengemis demi mendengar satu hadis. Baqi pun kemudian menjadi murid dekat Imam Ahmad. Ia di kemudian hari menjadi ulama terkenal dari kawasan Andalusia.

Kisah tersebut nyata terjadi dan ditulis dalam biografi Imam Baqi bin Miklad al-Andalusi. Dari kisah tersebut, tampak jelas kegigihan beliau dalam menuntut ilmu. Kegigihan inilah yang patut dicontoh Muslimin, terutama para pemuda. Apalagi menuntut ilmu dalam Islam itu hukumnya wajib. Rasulullah juga pernah bersabda, “Barang siapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim).

Tinggalkan sebuah Komentar

Bertemunya Musa dengan Hamba Allah yang Saleh

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Syahruddin El-Fikri

 

Dalam Surah Alkahfi (18), setidaknya terdapat tiga buah kisah yang menjadi pelajaran bagi umat manusia. Ketiga cerita yang terdapat dalam surah tersebut adalah kisah tujuh orang pemuda penghuni gua yang beriman kepada Allah, kisah Zulkarnain, serta kisah Nabi Musa AS yang bertemu dengan hamba Allah yang saleh.

Dalam beberapa keterangan, para ulama menyepakati bahwa yang dimaksud hamba Allah yang saleh dalam Surah Alkahfi tersebut adalah Nabi Khidir AS. Selengkapnya, kisah tersebut terdapat pada ayat 60-82.

Satu hal yang menarik dalam kisah tersebut adalah Nabi Musa AS belajar kepada Nabi Khidir tentang kesabaran. Dalam tulisan ini, tempat keduanya bertemu adalah di pertemuan dua laut (majma’a al-bahrayni). Di manakah letak pertemuan dua laut tersebut?

Asbab al-Nuzul
Asbab al-Nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat tersebut adalah sebagaimana disebutkan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab. Beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda:

”Sesungguhnya, pada suatu hari, Nabi Musa berdiri di khalayak Bani Israil, lalu beliau ditanya, ”Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, ”Aku.” Ketika ditanya, ”Adakah orang yang lebih berilmu dari Anda?” Nabi Musa menjawab, ”Tidak ada.” Lalu, Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya, di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”

Lantas, Nabi Musa pun bertanya, ”Ya Allah, di manakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, ”Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan dalam keranjang. Sekiranya ikan itu hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.”

Sesungguhnya, teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang saleh itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari hamba Allah tersebut.

Nabi Musa kemudian bermaksud menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan dalam wadah dan berangkat bersama-sama muridnya, Yusya bin Nun.

Berangkatlah keduanya hingga akhirnya mereka tiba di sebuah batu (shakhrah) dan memutuskan beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa dalam wadah itu tiba-tiba melompat ke dalam air. Sang murid (Yusya’ bin Nun) tertegun memerhatikan kebesaran Allah itu.

Selepas menyaksikan peristiwa tersebut, Yusya’ tertidur. Ketika terjaga, ia lupa untuk menceritakannya kepada Nabi Musa. Mereka berdua lalu meneruskan perjalanan hingga Nabi Musa berkata kepada Yusya’, ”Bawalah ke mari makanan kita. Sesungguhnya, kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Surah Alkahfi: 62).

Menurut Ibn Abbas, ”Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih untuk melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.” Yusya’ berkata kepada Nabi Musa, ”Tahukah kamu, tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk menceritakannya, kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (Surah Alkahfi: 63).

Nabi Musa segera teringat sesuatu bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya itu. Lalu, keduanya segera kembali menuju tempat hilangnya ikan tersebut. Musa berkata, ”Itulah tempat yang kita cari.” Lalu, keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula (Surah Alkahfi: 64).

Setibanya di tempat hilangnya ikan tadi, Nabi Musa melihat seorang hamba Allah yang sedang duduk bersimpuh. Lalu, terjadilah perbincangan di antara Musa dan Khidir. Setelah memberi salam, Musa pun memperkenalkan diri. ”Aku Musa,” paparnya.

Khidir bertanya, “Musa pemimpin Bani Israil?”

Musa menjawab, “Ya. Aku datang kepadamu supaya engkau mengajarkanku apa yang engkau ketahui.”

Khidir menjawab, ”Sesungguhnya, kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” (Alkahfi: 67).

“Hai, Musa, aku mempunyai ilmu yang diberikan dari ilmu Allah. Dia mengajariku hal-hal yang tidak engkau ketahui. Engkau pun mempunyai ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang tidak kumiliki.”

Maka, Musa berkata, “Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” (Alkahfi: 69).

Maka, Khidir berkata kepada Musa, “Janganlah kamu bertanya kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Alkahfi: 70).

Selanjutnya, Musa pun akhirnya mengikuti Nabi Khidir. Namun, dari beberapa perbuatan yang dilakukan Nabi Khidir, ternyata Musa tidak bisa berlaku sabar. Misalnya, saat melubangi perahu, membunuh anak kecil, dan membangun dinding rumah tanpa upah. Musa selalu bertanya atas perbuatan Khidir. Hingga, Khidir menyatakan tibalah saatnya perpisahan antara keduanya.

”Inilah perpisahan antara aku dan kamu. Kelak, akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (Alkahfi: 78).

Kemudian, khidir menjelaskan alasan-alasan di balik perbuatannya. Saat ia melubangi perahu, tujuannya agar perahu itu tidak dirampas oleh penguasa setempat karena rajanya hanya akan merampas perahu-perahu yang bagus. Mengenai anak kecil yang dibunuhnya: apabila dewasa nanti, anak tersebut akan membuat kedua orang tuanya menjadi durhaka kepada Allah.

Mengenai dinding rumah yang diperbaikinya, rumah tersebut adalah milik anak yatim piatu yang kedua orang tuanya adalah orang yang taat beribadah. Sementara itu, di bawah dinding rumah yang mau roboh tersebut, terdapat harta peninggalan kedua orang tuanya.

Pertemuan dua laut
Ada beberapa pendapat mengenai tempat pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir As atau yang disebut dengan Majma’a al-Bahrayni. Yang pasti, keterangan Alquran hanya menyebutkan tempat bertemunya dua laut.

Selain itu, Alquran juga tidak menyebutkan kapan peristiwa itu terjadi. Apakah itu terjadi ketika Musa masih berada di Mesir sebelum eksodus bersama Bani Israil atau setelah eksodusnya dari Mesir? Kapan waktunya setelah eksodus? Sebelum membawa mereka ke Tanah Suci (Ardlul Muqaddasah) atau setelah membawanya ke Tanah Suci?

Ada yang mengatakan bahwa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Persia, yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dan Lautan Atlantik.

Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad, yaitu antara Teluk Suez dan Teluk Aqabah di Laut Merah.

Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal al-Qur’an (Di bawah Naungan Alquran), jilid 7, hlm 329 (Gema Insani, cet ketiga, April 2008), pendapat yang paling kuat tentang dua laut itu adalah Laut Rum dan Laut Qalzum (Yordania) atau Laut Putih dan Laut Merah.

Tempat bertemu keduanya adalah Laut Murrah (pahit) dan Danau Timsah (buaya) atau di tempat bertemu dua Teluk Aqabah dan Terusan Suez di Laut Merah. Daerah ini merupakan panggung sejarah Bani Israil setelah eksodus (keluar) dari Mesir.

Sementara itu, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengungkapkan pendapat yang diriwayatkan oleh Qatadah dan ulama lain yang berpandangan bahwa bertemunya dua laut itu adalah Laut Faris (Persia) yang condong ke timur dan Laut Rum yang condong ke barat. Sedangkan, Muhammad bin Ka’ab al-Kurzhiy berkata, ”Pertemuan dua laut itu terletak di Laut Thanjah (Tangier), yaitu laut yang paling jauh di bagian barat.”

Namun demikian, kedua pendapat ini ditolak oleh Sayyid Quthb. ”Kami berpendapat bahwa dua pendapat ini sangat jauh dari kebenaran,” jelasnya.

Sementara itu, Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul menyatakan, pendapat yang paling kuat mengenai lokasi dua lautan tempat pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir adalah di Teluk Aqabah dan Terusan Suez di Laut Merah. Sedangkan, pendapat yang menyatakan peristiwa itu berada di Laut Tangier (Thanjah) dan Spanyol sangat lemah.

Jalaluddin as-Suyuthi dalam tafsir ad-Dur al-Mantsur menukil hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang menyatakan bahwa pertemuan dua laut itu berdasarkan riwayat yang dibawa oleh Ibn Babawayh dan al-Qummi. Di situ, disebutkan bahwa tempat itu berada di sekitar wilayah Suriah dan Palestina. Hal ini mengingat alur cerita berkaitan dengan orang-orang yang tinggal di Nazaret. Riwayat lain yang dibawa as-Suyuthi menyebutkan bahwa pertemuan dua laut itu berada di Lembah Kura Aras, wilayah dekat Azerbaijan. Wa Allahu A’lam.

Tinggalkan sebuah Komentar

Murka Seorang “Beriman”

Jum’at 3 ramadhan / 13 Agustus 2010

Hari ini benar-benar hari yang aneh buat saya. Saya digobloki oleh seorang pegawai Kemhan karena suatu kesalahan yang sepertinya sepele.

Saat itu khutbah Jum’at baru mulai beberapa menit, tidak lama suara kotak sumbangan terdengar beredar dari belakang, hingga akhirnya berada di depan saya. Setelah saya isi sekedarnya kotak itupun saya edarkan kesebelah saya dan begitu selanjutnya hingga berakhir di shaf terdepan, saya tiga shaf dibelakang darinya. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Older Posts »