Tuhan Juga Bicara Kepada Kita

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka memperoleh peringatan.”

(Q.S. Ibrahim 24-25)

Saya sudah berniat gak masuk kerja hari itu, makanya saat mau tidur, pesan sama istri agar mematikan alarm bangun pagi. Kemarin seharian ditempat kerja badan sudah terasa gak enak, penyakit Saya kambuh lagi. Seminggu yang lalu Saya pergi ke dokter untuk berobat, karena sudah hampir dua mingguan ada perasaan yang tak beres di perut, serasa penuh, kembung, jadi gak enak tarik nafas. Kalau sudah kelewatan, biasanya kepala jadi pusing, mungkin otak kurang oksigen. Diagnosa dokter Saya kena gangguan pencernaan.

Malam itu entah kenapa mata koq gak bisa mengatup, jam sembilan sempat tidur, eh jam sebelas melek gak bisa tidur lagi. Lewat tengah malam, daripada gak karuan Saya akhirnya beranjak dari tempat tidur, Ambil air wudhu dan ambil Qur’an dengan maksud melanjutkan bacaan hari-hari sebelumnya. Sampailah pada ayat diatas, puitis, apakah karena suasana malam saja? Ah rasanya bukan, karena memang begitulah keindahan khas bahasanya Qur’an, selama ini mungkin Aku saja yang kurang meresapinya. Lusa atau hari berikutnya aku akan menyempatkan mencetak ayat tersebut ke kertas lebaran dan menempelnya di dinding kamar, begitu niat Saya saat itu.

Karena ayat itu Saya jadi teringat pengalaman dulu, waktu awal bisa bawa mobil. Ya Saya termasuk cepat belajar walaupun tanpa guru, mungkin karena terbiasa ngebut pake motor kopling. Baru dua minggu saja Saya sudah berani ke jalan raya. Tapi begitulah karena belum terbiasa, perasaan grogi sering muncul, tak urung leher serasa haus, kering, kalau sudah terjebak kemacetan. Ajaran seorang teman, bila menghadapi situasi yang membuat perasaan terjepit, hendaknya membaca bacaan yang diberikannya, yang menurut Saya tradisional, akhirnya diikuti juga, walaupun pada ujungnya selalu Saya tambahi embel-embel, “Ya Allah walaupun saya minta tolong yang lain itu cuma perantara, tapi hakekatnya hanya Engkau yang mengabulkannya”. Satu hal yang saya rasa, rasa kuatir itu gak hilang, apa karena ada perasaan bersalah, tak yakin, sehingga malah konsentrasi jadi hilang, ya…bisa juga begitu, buktinya peristiwa-peristiwa yang dikutirkan itu malah terjadi. Suatu waktu tutup pelek belakang kiri pecah ditabrak motor, lain waktu pintu belakang kiri penyok di senggol stang. Sampai suatu ketika, itu saat terakhir saya ucapkan bacaan tradisional, disaat pulang kerja dan terjebak antrian di sebuah perempatan yang berbentuk bottle neck. Di tempat itu memang posisi sulit, kendaraan dipaksa merapat dari lima lajur menjadi cuma dua, yang belum terbiasa biasanya grogi, gara-gara pengemudi yang berulah serobotan. Saya terpaksa ambil jalur ke tengah saat itu, sialnya kendaraan yang dibelakang sepertinya gak mau mengalah memberi jalan, tapi Saya paksakan masuk karena sudah posisi terjepit dan berpikir posisi saya didepan dia, alhasil mudguard belakang kanan mobil saya nyangkut ke bumper kiri mobil yang dibelakang dan hancur. Sebagai orang Indonesia yang selalu beruntung, untunglah cuma mudguard saja yang rusak, sementara bumper mobil yang dibelakang mungkin baret.

Setelah kejadian itu Saya jadi merenung, itu adalah teguran dari yang diatas, Tuhan. Ya, Tuhan telah bicara pada saya, bicara dengan bahasa tanpa kata-kata, mungkin Tuhan ingin mengatakan, “Akulah sebaik-baik penolong, janganlah kamu meminta pertolongan kepada selainKu”.

Mei 2008

****Bacaaan tradisional yang Saya maksud adalah bacaan yang tidak dicontohkan oleh Rasul dan tidak ada di Quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: