Harusnya Malu Mengaku Jomblo

Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau membaca ucapan “jomblo”, baik di tempat umum atau di media massa. Kata tersebut menjadi barang baru yang membuat penuturnya sudah merasa gaul. Dalam sebuah acara infotainment seorang artis dengan senyum dan centilnya mengatakan, “hai….aku lagi jomblo nih…”, atau seorang presenter acara musik dengan gaya gaulnya mengatakan, “…buat elo-elo yang High Quality jomblo…”, wah apa lagi ini go international betul, ada juga terdengar penyiar radio menggunakannya dalam sebuah acara khusus kawula muda mengulang-ulang perkataan jomblo, sehingga membuatnya menjadi gaya kata yang trendi dan gaul yang semakin lama semakin populer.

Istilah ini sebenarnya sebuah kata yang sudah lama ada di dalam perbendaharaan tata bahasa Sunda, mungkin sejak zaman nenek moyang, namun entah siapa yang pertama mempopulerkannya di media massa, Saya sendiri tidak tahu. Ketika pertama kali mendengar seseorang mengatakan kata ini sambil senyam-senyum, saya bingung, koq bisa, maksudnya koq bisa gak malu ngaku jomblo? Lalu saya simak keseluruhan perkataannya, rupanya pembicara ingin menerangkan kepada pemirsa bahwa dia sedang tidak punya pacar. Saya jadi bertanya, kenapa tidak pakai saja kata lajang daripada menggunakan kata jomblo, itu lebih baik dan sudah baku sebagai kata yang ada dalam perbendaharaan Bahasa Indonesia.

Lha, kenapa harus malu mengaku jomblo? Mari saya jelaskan kenapa Saya bingung mendengar seseorang mengakui dirinya jomblo. Begini, sebenarnya kata tersebut dalam tata bahasa Sunda mempunyai konotasi yang negatif, jomblo adalah untuk menggambarkan seseorang yang tidak kawin-kawin padahal sudah kelewat usia. Adapun alasannya bisa beragam, misalnya tidak laku, tidak gairah terhadap lawan jenis dan lainnya. Tapi yang membuat konotasi negatif kebanyakan karena alasan tidak laku. Seseorang yang sedang tidak berguyon, tidak akan mengatakan kata tersebut terhadap lawan bicara karena akan dianggap kurang ajar, tapi biasanya digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak secara langsung bicara dengan kita. Lalu kapan seseorang dikatakan jomblo? Batasannya sepertinya relatif, itu tergantung pendidikan.

Dulu saat saya kecil, sering dengar percakapan orang tua yang bingung terhadap kakak perempuan saya yang belum mendapat jodoh, sementara teman-teman seangkatan sekolahnya sudah banyak yang berumah tangga. Kakak Saya itu kan sekolah hingga ke tingkat SLA dan setelah lulus langsung mendapat pekerjaan, sementara itu teman-teman sebayanya kebanyakan tidak melanjutkan sekolah setamat SD, setahun kemudian banyak yang menikah. Menilik dari contoh tersebut, menurut Saya batasan nikah dipengaruhi oleh pendidikan, semakin jaman maju semakin menuntut pendidikan lebih tinggi, sehingga usia menikah juga bertambah. Untuk lebih jelas, coba saja perhatikan batasan usia menikah orang Indonesia dengan orang Eropa atau Amerika. Pasti akan nampak perbedaan mencolok. Walaupun jamannya sama tapi karena tingkat pendidikan secara rata-rata berbeda.

Itulah sedikit uraian yang ingin Saya sampaikan dalam keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, semoga buat yang belum tahu arti sesungguhnya kata “jomblo”, menjadi jomblo yang bukan sesungguhnya, dengan kata lain, hanya istilah saja yang salah, maka mari kita luruskan.

Akhir kata, “Apakah Anda jomblo?”…………………#)$&@#*$)#@($*#($no way#)($&)@#$(

Den Mas Gemblung, Akhir Mei 2008

2 Komentar »

  1. swarafitria said

    Den Mas Gemblung, Anda ini lebih aneh dari pada orang yang tidak malu menyatakan dirinya sebagai jomblo karena adanya konotasi negatif. Apakah keanehan Anda? Ingin tahu jawabnya? ejalah nama anda. Den Mas itu bagus singkatan dari Raden Mas, anda orang bangsawan dan terhormat, dan dihormati. akan tetapi lihatlah nama terakhir Anda. Apa? Gemblung. Tahukah apa artinya? cobalah cari tahu sendiri.

  2. ayakukabita said

    heheheh….gemblung kan cuma nama samaran, sementara jomblo adalah predikat yang melekat yang dipakai secara salah kaprah. saya tahu betul arti gemblung, saya menganggap lebih baik pake nama itu, dari pada saya gunakan nick “good man” atau “good guy” atau “mas ganteng”.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: