Stasiun TV, Salam itu Untuk Siapa?

Sebenarnya sudah lama Saya ingin komentar masalah ini, cuma bingung. Saya juga gak kreatif mencari kemana saya sampaikan unek-unek, Saya cuma bisa ngedumel sendiri tiap kali mendengar ucapan tersebut.

Ucapan apa sih yang bikin Saya ngedumel itu? Teman-teman, pernah gak suatu waktu menyempatkan menontot acara berita dari sebuah stasiun TV, dimana setiap acara tersebut selesai tayang para penyiarnya selalu mengucapkan salam secara bersamaan, “salam esceteve”, Saya yakin teman-teman pasti mendengarnya, hanya saja mungkin kurang menyimak dan sambil lalu saja.

Saya yakin pihak TV tersebut terinpirasi oleh ucapan salam seperti yang digunakan oleh Muslim, cuma karena menjunjung faham prulalisme, wah sudah ya untuk lidah kita menyebutnya, mereka merombaknya atau menggantinya dengan ucapan tersebut. Bagi Saya pribadi itu terkesan dipaksakan dan malahan lebih cenderung menggambarkan sikap egois, karena kenapa? Mari saya tunjukkan asal muasalnya,

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wa barakaatuuh
“Semoga keselamatan dan rahmat serta barakah ALLAH tercurah untukmu”

Jelas ucapan salam sebenarnya adalah ucapan diantara dua orang atau lebih disaat bertemu dan berpisah, dimana setiap yang mengucapkannya bermaksud mendoakan orang yang disapanya tersebut. Demiakian pula orang yang diberi salam biasanya akan membalasnya dengan ucapan serupa. Biasanya dalam keseharian, penyapa sering menyingkat ucapan tersebut hanya dengan, “Assalamu’alaikum”.

Kalau melihat pada arti sebenarnya salam, lalu apa maksud sebenarnya yang ingin disampaikan stasiun TV itu ? Terus terang saya bingung, sebenarnya mereka ini bermaksud mendoakan pemirsa atau mendoakan stasiun TV mereka sendiri? Kalau saya jabarkan lagi ucapan salam itu menjadi arti sebenarnya dalam bahasa kita “selamat”, berarti kata tersebut menjadi “selamat esceteve”, apakah ada artinya seperti halnya kalau kita mengucapkan, “selamat malam” atau “selamat menikmati”, rasanya gak pas. Itulah yang saya maksud terkesan dipaksakan.

Lalu dimana letak “cenderung egois” seperti saya katakan sebelumnya? Mohon maaf saya tidak bermaksud menyinggung, ini adalah kesan pertama kali yang saya tangkap waktu dulu pertama kali mendengar ungkapan tersebut. “loh koq mengucapkan salam untuk diri sendiri”, seperti itulah mulut Saya mengucapkannya secara spontan.

Menurut pendapat saya ada baiknya stasiun TV tersebut menggunakan kata yang lebih umum yang bisa diterima oleh semua kalangan, kalau memang itu prinsif yang mereka anut, misalnya kata “sampai jumpa”, atau sekalian saja menggunakan ucapan salam yang lengkap seperti orang Muslim, toh sudah ada contoh salah satu stasiun yang melakukannya dan tidak ada masalah, tidak ada kabar rating turun gara-gara ucapan salam Muslim, agar tidak membuat salah kaprah atau bingung pemirsa. Mungkin menurut sebagian kalangan itu hal kecil, tapi buat saya tidak, bukankah media itu ujung tombak kemajuan bangsa, salah satunya pencerdasan bangsa melalui bahasa.

Demikian, Terima kasih

Juni 2008

Den Mas Usil tapi gak Gemblung

2 Komentar »

  1. tansri said

    hehhehe
    salamnya biasa ditujukan untuk aku blung…
    nggak percaya, tanya aja sama penyiarnya…
    keep blogging…isi yang banyak donk…

  2. ayakukabita said

    heheh bias aja si Abang ini…
    pasti saya tambah tulisannya, kalo ada ide….halo ide……apa disana ada?
    heuheuheu

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: