Murka Seorang “Beriman”

Jum’at 3 ramadhan / 13 Agustus 2010

Hari ini benar-benar hari yang aneh buat saya. Saya digobloki oleh seorang pegawai Kemhan karena suatu kesalahan yang sepertinya sepele.

Saat itu khutbah Jum’at baru mulai beberapa menit, tidak lama suara kotak sumbangan terdengar beredar dari belakang, hingga akhirnya berada di depan saya. Setelah saya isi sekedarnya kotak itupun saya edarkan kesebelah saya dan begitu selanjutnya hingga berakhir di shaf terdepan, saya tiga shaf dibelakang darinya.

Saat sedang khusu, tiba-tiba dari belakang punggung saya di tepak seseorang sambil orang itu berkata “itu tolong yang didepan kotak amalnya jangan didiamkan”. Spontan saya agak merebahkan badan mencolek “Bapak” yang didepan itu, sambil kasih kode menunjuk ke arah lain dengan tangan  sopan (menunjuk dengan jempol). Tapi saya kaget betul kala dia nengok kearah saya, matanya melotot membelalak, pada saat yg bersamaan seorang jemaah kasih tahu saya bahwa semua sudah mendapat giliran putaran kotak amal. Saat itu dalam hati saya berpikir, seram sekali orang itu.

Pada saat selesai khotbah dan jemaah mulai berdiri untuk shalat, “bapak” itu mengembalikan kotak ke belakang dengan setengah dilempar. Sayapun mulai yakin dengan dugaan saya bahwa orang ini ngamuk.

Sewaktu shalat usai begitupun dengan berdoa, jemaah satu-dua beranjak untuk pulang, sementara saya diam sejenak pingin tahu ada reaksi apa selanjutnya. Bapak yang terhormat yang pejabat pertahanan inipun bangkit. Tapi, benar kembali dugaan saya, Dia beranjak untuk memarahi saya. “eh kalo jadi orang jangan goblok, khotbat itu sudah termasuk rakaat shalat, jadi jangan ngomong-ngomong lagi…” begitu ucapnya sambil melototi saya lantas matanya ke arah orang lain seperti cari pembenaran dan dukungan. “makanya jadi orang jangan goblok” sambungnya, “maaf pak saya juga tadi dikeplok dari belakang sama orang” jawab saya spontan. Ah tapi apa pedulinya dengan argumentasi saya, orang yang sedang dirasuki rasa marah mata hatinya kan tertutup. Saya juga membayangkan ini terjadi saat shalat dan sedang puasa, wah apa jadinya kalo terjadi di jalan saat sedang ditimpa teriknya panas matahari, atau sedang berjejalan di jalan kena macet ? Hancurlah saya.  Diapun balik ke posisi semua untuk melaksanakan “shalat sunnah”.

Ya tuhan mimpi apa semalam. Jemaah lain semua bengong menyaksikannya. Seorang jemaah sebelah saya yang juga pengawai satu instansi dengan bapak yang pemarah itu menghibur dengan merangkul  saya dan berkata “Sabar aja…apalagi ini lagi puasa”. “iya pak saya juga lagi puasa…” jawabku. Demikian pula seorang yang tadi shalat didepanku berusaha menghiburku agar saya sabar.

Saudara sekalian, sebenarnya saya tahu hukum orang yang bercakap saat khotbah. Itu bisa membatalkan atau mengurangi pahala shalat. Sewaktu orang dibelakang saya nyolek sayapun, saya sadar untuk tidak meladeni permintaan bantuannya. TAPI……atas pertimbangan toleransi akhirnya saya lakukan juga. Karena apabila saya diam saja, saya takut dikatakan konyol dan pada akhirnya dia kesal sama saya. Sebenarnya dalam hati saya juga kesal atas ketidaktahuan orang akan aturan bahwa bicara saat khotbah bisa membatalkan atau mengurangi pahala shalat, cuma demi kebaikan saya simpan dalam hati saja. Saya ingin membersihkan hati, apalagi ini lagi puasa.

Buat “Bapak” yang terhormat, mohon maaf apabila tindakan saya itu salah. Saya telah menyinggung ego dan mengusik kekhusu’an bapak dalam beribadah. Mungkin saya menurut bapak sudah batal shalat jum’at-nya (wallahu alam). Tapi coba bapak renungkan kembali ke dalam diri sendiri, bapak shalat dalam keadaan marah yang membuncah, dimana bapakpun mungkin sedang puasa. saat  shalat pun mungkin bapak sudah meniatkan “…sehabis shalat akan saya marahi orang ini, dasar goblok…”

Ya Allah ampunilah bila saya salah sangka.

Rasanya di jaman ini orang sering lupa bahwa “Hablum minallah” itu juga harus diimbangi dengan “Hablum minannas”. Hubungan yang baik dengan Allah juga harus diimbangi hubungan yang baik dengan sesama manusia.

Ada sebuah hadits Nabi Saw yang apabila kita cermati merupakan peringatan bagi umatnya yang melakukan amal-amalnya. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Seorang melakukan amalan-amalan ahli surga, sebagaimana tampak bagi orang-orang, tetapi sesungguhnya dia termasuk penghuni neraka, dan seorang lagi melakukan amalan-amalan ahli neraka sebagaimana disaksikan orang-orang, tetapi sebenarnya dia tergolong penghuni surga,” (HR. Bukhari).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: